Haustafel Sebagai Sebuah Aturan Kristen

Kali ini saya memposting beberapa kolaborasi dengan seorang teman biblika dan hasilnya tafsirannya saya kemukakan sebagai berikut. Namun perlu diketahui bahwa komentar atau tafsiran ini memiliki beberapa sumber yang tercantu dalam foote note tetapi mungkin hilang waktu diposting jadi dibagian akhir akan kami cantumkan sumber. Kini saya masuk dalam Haustaefel sebai sebuah aturan Kristen.
Beberapa pakar surat-surat Paulus percaya bahwa haustafel dalam surat Kolose merupakan aturan Kristen. K.H. Rengstorf merupakan pakar pertama yang berkesimpulan seperti ini setelah Dibelius dan beberapa pakar di atas mengusulkan pandangan-pandangan mereka mengenai asal usul haustafel. Rengstorf mencatat sejumlah perbedaan mendasar yang terdapat dalam haustafel Kristen dan haustafel Yahudi-Helenistik untuk mencegah kesimpulan prematur bahwa haustafel Kristen merupakan versi Kristenisasi terhadap haustafel non-Kristen tersebut. Rengstorf mengklaim bahwa penggunaan haustafel dalam tulisan Bapak-bapak Apostolik menyingkapkan familiritas mereka akan haustafel PB. Menurut Rengstorf, penekanan dari haustafel PB ada pada ayah sebagai kepala seluruh keluarga ketimbang perbedaan-perbedaan gender dan tingkat sosial.
Upaya Rengstorf di atas diperkuat oleh tesisnya bahwa karakter Kristen dari haustafel tersebut terlihat dalam penggunaan kata u`potassesqai yang menandai sikap istri terhadap suami dalam konteks etika Kristen. Selanjutnya, ia juga berargumentasi bahwa tugas dari kepala keluarga menyangkut tiga dimensi, yaitu: sebagai suami, ayah, dan tuan. Akhirnya, ia juga memperkuat nuansa karakter Kristen dari haustafel tersebut dengan memperlihatkan komparasinya dengan penggunaan kata u`potassesqai dalam Lukas 2:51 dan peran Yusuf serta Zakaria sebagai kepala dari keluarga mereka.
David Schroeder juga percaya bahwa haustafel dalam surat Kolose merupakan khas Kristen, namun menolak argumentasi Rengstorf. Menurutnya, rujukan-rujukan yang dikemukakan Rengstorf dari narasi masa kanak-kanak Yesus tidak dapat dianggap khas Kristen. Menurut Schroeder, haustafel tersebut berasal dari Paulus sendiri karena munculnya masalah terkait lontarannya mengenai equalitas dari semua orang di dalam Kristus (Gal. 3:28). Maksud Schroeder, lontaran teologis ini rupanya disalahpahami seakan-akan Paulus meniadakan perbedaan peran dan fungsi dalam tatanan masyarakat dan keluarga. Itulah sebabnya, Paulus perlu menandai perbedaan peran tersebut dalam paraenesisnya mengenai haustafel dalam surat-suratnya.
Dengan mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan dari berbagai pandangan di atas, penulis menyimpulkan bagian ini dengan beberapa proposisi penting berikut ini:
a.Haustafel merupakan sesuatu yang umum dijadikan topik pembicaraan dalam konteks Greco-Roman;
b.Meski demikian, haustafel dalam surat Kolose tidak dapat dianggap sebagai versi Kristenisasi dari haustafel Yahudi maupun Helenistik. Haustafel tersebut berasal dari Paulus sendiri. Yates menyatakan, “Tidak terdapat paralel dari aturan-aturan rumah tanggal dalam surat Kolose dengan materi-materi di luar Perjanjian Baru. Itulah sebabnya, kita dapat menyebutnya sebagai materi-materi yang bersifat Kristen.”
c.Namun, Paulus mengemukakan haustafel tersebut bukan karena ada masalah berkait kesalahpahaman akan Galatia 3:28 (kontra Schroeder). Tidak ada bukti dari surat Kolose sendiri untuk kesimpulan ini.
Berkaitan dengan poin-poin penting di atas, penulis perlu melanjutkan ulasan ini dengan memberi perhatian terhadap konteks historis dari surat Kolose sendiri untuk menemukan mengapa Paulus mengkomposisi haustafel tersebut bagi para pembaca surat ini.

Sumber-sumber refrensi Haustafel:

Seneca, Epistles 94.1. Perlu dijelaskan bahwa dalam dunia Greco-Roman, para budak (slaves) dianggap sebagai bagian inti dari sebuah “keluarga” (family) atau “rumah tangga” (household).
Ada pula literatur biblika PB yang menggunakan sebutan yang lebih umum, yaitu ethical lists.
Struktur paling mendasar dari semua surat Paulus adalah struktur indikatif (doktrinal) dan struktur imperatif (perintah-perintah atau nasihat-nasihat). Struktur imperatif inilah yang sering disebut juga paraenesis. Mengenai hal ini, lih. Edwin D. Freed, The Apostle Paul and His Letters (London, Oakville: Equinox, 2005), 4-5. Roy Yates menulis, “Karakteristik surat-surat Paulus ditandai dengan dua bagian – doktrin dan nasihat-nasihat”, lih. “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” Evangelical Quarterly 63:3 (1991): 241.
Istilah haustafel pertama kali digunakan oleh Martin Luther. Lih. Yates, . “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 247.
Lih. James E. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel (Gottingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1972), 9-18.
Martin Dibelius, Colossians and Ephesians (Handbuch zum Neuen Testament 12; Tubingen, 1953), 438.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 438-450.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 450.
Karl Weidinger, The Haustafel: A Piece of Early Christian Paraenesis (Untersuchungen zum Neuen Testament 14; Leipzig, 1928), 10-11.
Weidinger, The Haustafel, 19.
Weidinger, The Haustafel, 49.
Weidinger, The Haustafel, 50.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 451.
Weidinger, The Haustafel, 52.
Weidinger, The Haustafel, 52-53.
Pandangan Dibelius dan Weidinger tampaknya diterima oleh Rudolf Karl Bultmann, Theology of the New Testament (New York: Doubleday, 1951), I.118.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 21.
Untuk kritikan lainnya terhadap pandangan Dibelius dan Weidinger, lih. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 22-23.
Ernst Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon (Gottingen, 1961), 131-145.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 136.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 138.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 144-145.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 23-24.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 24.
Diulas dalam: Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26. Pandangan ini diikuti juga oleh: Stephen Motyer, “Relationship Between Paul’s Gospel of ‘All One in Christ Jesus’ (Gal. 3:28) and the Household Codes,” Vox Evangelica 19 (1989): 33-48.
Yates, “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 250.

Haustafel Sebagai Sebuah Aturan Yahudi

Dalam tafsirannya terhadap surat Kolose, Ernst Lohmeyer percaya bahwa haustafel dalam surat ini merupakan materi paraenesis yang berlatar belakang Yahudi ketimbang Helenistik. Ia membuktikan tesisnya dengan merujuk kepada konsep takut akan Tuhan (ay. 22) sebagai motif bagi tindakan etis yang menurutnya merupakan terminologi Yahudi. Lebih khusus lagi, dalam ayat 22dst., Lohmeyer menemukan ekspresi etika Farisi di situ. Ia kemudian mengklaim bahwa “Tuhan” dalam haustafel secara konsisten merujuk kepada Allah ketimbang Kristus. Konsekuensinya, istilah “Tuhan” di situ bukan dianggap sebagai tambahan yang bersifat Kristen melainkan sebagai bagian integral dari aturan-aturan etika Yahudi.
Penekanan Lohmeyer terhadap asal usul keyahudian dari haustafel dalam surat Kolose memberikan signifikansi bagi kita untuk melihat rujukan terhadap kerangka teologis dalam haustafel itu sendiri. Lohmeyer tampaknya benar bahwa karakter keyahudian dari haustafel itu terlihat lebih menonjol ketimbang karakter Helenistiknya. Hal ini bisa dipahami karena Paulus sendiri adalah orang Yahudi. Tetapi, menganggap bahwa haustafel tersebut berasal dari konteks Yahudi seperti yang disimpulkan Lohmeyer tampaknya merupakan kesimpulan yang tidak cukup solid. Menurut Crouch, kelemehan utama dari tesis Lohmeyer adalah bahwa ia tidak dapat membuktikan eksistensi dari haustafel Yahudi yang dapat dijadikan perbandingan tekstual untuk memperkuat kesimpulannya. Konsekuensinya, kesimpulan Lohmeyer tidak lebih dari sekadar sebuah kesimpulan teoritis ketimbang kesimpulan yang didukung oleh bukti-bukti.

Sumber-sumber refrensi Haustafel:

Seneca, Epistles 94.1. Perlu dijelaskan bahwa dalam dunia Greco-Roman, para budak (slaves) dianggap sebagai bagian inti dari sebuah “keluarga” (family) atau “rumah tangga” (household).
Ada pula literatur biblika PB yang menggunakan sebutan yang lebih umum, yaitu ethical lists.
Struktur paling mendasar dari semua surat Paulus adalah struktur indikatif (doktrinal) dan struktur imperatif (perintah-perintah atau nasihat-nasihat). Struktur imperatif inilah yang sering disebut juga paraenesis. Mengenai hal ini, lih. Edwin D. Freed, The Apostle Paul and His Letters (London, Oakville: Equinox, 2005), 4-5. Roy Yates menulis, “Karakteristik surat-surat Paulus ditandai dengan dua bagian – doktrin dan nasihat-nasihat”, lih. “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” Evangelical Quarterly 63:3 (1991): 241.
Istilah haustafel pertama kali digunakan oleh Martin Luther. Lih. Yates, . “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 247.
Lih. James E. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel (Gottingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1972), 9-18.
Martin Dibelius, Colossians and Ephesians (Handbuch zum Neuen Testament 12; Tubingen, 1953), 438.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 438-450.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 450.
Karl Weidinger, The Haustafel: A Piece of Early Christian Paraenesis (Untersuchungen zum Neuen Testament 14; Leipzig, 1928), 10-11.
Weidinger, The Haustafel, 19.
Weidinger, The Haustafel, 49.
Weidinger, The Haustafel, 50.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 451.
Weidinger, The Haustafel, 52.
Weidinger, The Haustafel, 52-53.
Pandangan Dibelius dan Weidinger tampaknya diterima oleh Rudolf Karl Bultmann, Theology of the New Testament (New York: Doubleday, 1951), I.118.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 21.
Untuk kritikan lainnya terhadap pandangan Dibelius dan Weidinger, lih. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 22-23.
Ernst Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon (Gottingen, 1961), 131-145.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 136.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 138.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 144-145.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 23-24.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 24.
Diulas dalam: Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26. Pandangan ini diikuti juga oleh: Stephen Motyer, “Relationship Between Paul’s Gospel of ‘All One in Christ Jesus’ (Gal. 3:28) and the Household Codes,” Vox Evangelica 19 (1989): 33-48.
Yates, “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 250.

Originalitas Haustafel

Asal usul atau originalitas haustafel dalam PB telah menjadi isu diskusi yang sangat intens di kalangan para pakar PB. Seperti yang sudah diindikasikan di atas, haustafel merupakan sebuah topik yang sangat penting dalam dunia Greco-Roman. Pertanyaannya adalah dari manakah Paulus mendapatkan haustafel yang ia cantumkan dalam surat-suratnya? Atau lebih tepat, bagaimana hubungan antara haustafel dalam surat-surat Paulus dan haustafel dalam dunia Greco-Roman pada saat itu? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena para ahli telah memperlihatkan kemiripan-kemiripan antara haustafel dalam surat-surat Paulus dan haustafel dalam tulisan para filsuf Greco-Roman. Dan hingga saat ini, terdapat beberapa usulan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Salah satunya perhatikan dalam pendapat berikut ini.

Menurut Dibelius, orang-orang Kristen terdorong untuk menggunakan haustafel Stoik karena mulai surutnya pengharapan akan Parousia dan meningkatnya kesadaran akan apa yang harus dilakukan orang-orang Kristen dalam dunia ini. Komunitas Kristen mula-mula mulai bergumul dengan pertanyaan tentang tugas anggota-anggota keluarga. Itulah sebabnya, para pemimpin Kristen, misalnya Paulus terpaksa meminjam haustafel Stoik tersebut untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Weidinger setuju dengan penekanan Dibelius di atas namun mengubah dimensi argumennya ke arah yang sedikit berbeda. Berbeda dengan proposal Dibelius yang bersifat eskatologis, Weidinger mengusulkan jawaban yang bersifat praktis. Menurut Weidinger, ajaran Paulus mengenai kehidupan “di dalam Roh” kelihatannya mendapat tantangan dari kehidupan yang bercorak duniawi semisal yang terdapat dalam 1 Korintus 7. Itulah sebabnya, Paulus perlu menegaskan ulang prinsip hidup dalam Roh dengan memberikan aplikasi praktisnya dalam konteks kehidupan rumah tangga. Dan untuk melakukan hal ini, Paulus meminjam haustafel Stoik.
Pandangan Dibelius dan Weidenger dihargai oleh para sarjana karena membuka wawasan kita mengenai umumnya haustafel dalam dunia Greco-Roman pada waktu itu. Meski demikian, pandangan kedua sarjana ini dianggap mengandung sejumlah kelemahan esensial yang membuat pandangan mereka kurang diminati di kalangan para pakar.
Dalam analisisnya terhadap pandangan Dibelius dan Weidinger, Crouch menyatakan bahwa bahkan sebelum Weidinger memulai studinya, Alfred Juncker telah mengemukakan sejumlah keberatan mendasar terhadap kesimpulan Dibelius. Juncker menekankan bahwa paralel antara haustafel Helenistik dan haustafel dalam PB tidak lebih dari kemiripan-kemiripan yang bersifat umum saja. Tidak terdapat paralel-paralel khusus yang memperlihatkan kesamaan perhatian, sementara itu terdapat perbedaan-perbedaan esensial yang tidak dapat disepelekan di antara haustafel Helenistik dan haustafel dalam PB. Juncker juga mendapati bahwa penjelasan eskatologis Dibelius terhadap alasan penggunaan haustafel Stoik dalam surat-surat Paulus tidak meyakinkan.

Sumber-sumber refrensi Haustafel:

Seneca, Epistles 94.1. Perlu dijelaskan bahwa dalam dunia Greco-Roman, para budak (slaves) dianggap sebagai bagian inti dari sebuah “keluarga” (family) atau “rumah tangga” (household).
Ada pula literatur biblika PB yang menggunakan sebutan yang lebih umum, yaitu ethical lists.
Struktur paling mendasar dari semua surat Paulus adalah struktur indikatif (doktrinal) dan struktur imperatif (perintah-perintah atau nasihat-nasihat). Struktur imperatif inilah yang sering disebut juga paraenesis. Mengenai hal ini, lih. Edwin D. Freed, The Apostle Paul and His Letters (London, Oakville: Equinox, 2005), 4-5. Roy Yates menulis, “Karakteristik surat-surat Paulus ditandai dengan dua bagian – doktrin dan nasihat-nasihat”, lih. “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” Evangelical Quarterly 63:3 (1991): 241.
Istilah haustafel pertama kali digunakan oleh Martin Luther. Lih. Yates, . “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 247.
Lih. James E. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel (Gottingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1972), 9-18.
Martin Dibelius, Colossians and Ephesians (Handbuch zum Neuen Testament 12; Tubingen, 1953), 438.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 438-450.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 450.
Karl Weidinger, The Haustafel: A Piece of Early Christian Paraenesis (Untersuchungen zum Neuen Testament 14; Leipzig, 1928), 10-11.
Weidinger, The Haustafel, 19.
Weidinger, The Haustafel, 49.
Weidinger, The Haustafel, 50.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 451.
Weidinger, The Haustafel, 52.
Weidinger, The Haustafel, 52-53.
Pandangan Dibelius dan Weidinger tampaknya diterima oleh Rudolf Karl Bultmann, Theology of the New Testament (New York: Doubleday, 1951), I.118.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 21.
Untuk kritikan lainnya terhadap pandangan Dibelius dan Weidinger, lih. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 22-23.
Ernst Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon (Gottingen, 1961), 131-145.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 136.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 138.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 144-145.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 23-24.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 24.
Diulas dalam: Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26. Pandangan ini diikuti juga oleh: Stephen Motyer, “Relationship Between Paul’s Gospel of ‘All One in Christ Jesus’ (Gal. 3:28) and the Household Codes,” Vox Evangelica 19 (1989): 33-48.
Yates, “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 250.

Haustafel dalam Kolose 3:18-21

Bagaimana kehidupan keluarga harus diatur bukanlah suatu hal yang mudah dalam dunia Greco-Roman. Menata atau tepatnya memanajemen rumah tangga bukanlah topik yang muncul pada masa kini tetapi merupakan topik klasik dari masa ke masa. Manajemen keluarga sedemikian klasik tetapi urgen dari waktu ke waktu dalam keluarga, khususnya keluarga Kristen. Kita mungkin menolak Aristoteles karena ia tidak searah dengan iman kita, namun hal ini tidak terlalu kuat untuk dijadikan alasan untuk tidak menerima apa yang benar pada buah pikir dari Aristoteles. Aristoteles menganggap bahwa keluarga merupakan unit paling mendasar dari sebuah negara. Ia menyatakan bahwa negara yang tertata baik mestinya dilandasi oleh hubungan paling mendasar di dalamnya yaitu keluarga.(lihat Aristotle, Politics I.1253b., 1-14). Seneca dalam tulisannya yang berjudul: On the Values of Advice, menegaskan beberapa bagian yang berhubungan dengan relasi seorang suami dan istrinya, ayah dan anak, dan bagaimana seorang tuan memperlakukan budak-budaknya. Itulah sebabnya, dalam dunia Greco-Roman, terdapat aturan-aturan mengenai keluarga atau rumah tanggap yang biasanya disebut: household codes (Inggris) atau Haustafel (Jerman).
Menariknya, dalam surat-surat Paulus terdapat dua bagian paraenesis yang tergolong sebagai haustafel, yaitu: Efesus 5:22 – 6:9 dan Kolose 3:18 – 4:1 (bnd. 1 Petrus 3:1-7). Dari segi kuantitasnya, haustafel yang terdapat dalam Kolose lebih ringkas dibandingkan dengan yang terdapat dalam surat Efesus. Meski begitu, haustafel pada kedua bagian ini memiliki struktur yang serupa yaitu mengatur tentang hubungan: suami-istri; orangtua-anak; dan tuan-budak. Paper ini dimaksudkan untuk membahas secara khusus haustafel dalam surat Kolose dan lebih khusus lagi membahas mengenai paraenesis yang mengatur tentang hubungan: suami-istri dan orangtua-anak (Kol. 3:18-21)

Sumber-sumber Haustafel:

Seneca, Epistles 94.1. Perlu dijelaskan bahwa dalam dunia Greco-Roman, para budak (slaves) dianggap sebagai bagian inti dari sebuah “keluarga” (family) atau “rumah tangga” (household).
Ada pula literatur biblika PB yang menggunakan sebutan yang lebih umum, yaitu ethical lists.
Struktur paling mendasar dari semua surat Paulus adalah struktur indikatif (doktrinal) dan struktur imperatif (perintah-perintah atau nasihat-nasihat). Struktur imperatif inilah yang sering disebut juga paraenesis. Mengenai hal ini, lih. Edwin D. Freed, The Apostle Paul and His Letters (London, Oakville: Equinox, 2005), 4-5. Roy Yates menulis, “Karakteristik surat-surat Paulus ditandai dengan dua bagian – doktrin dan nasihat-nasihat”, lih. “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” Evangelical Quarterly 63:3 (1991): 241.
Istilah haustafel pertama kali digunakan oleh Martin Luther. Lih. Yates, . “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 247.
Lih. James E. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel (Gottingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1972), 9-18.
Martin Dibelius, Colossians and Ephesians (Handbuch zum Neuen Testament 12; Tubingen, 1953), 438.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 438-450.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 450.
Karl Weidinger, The Haustafel: A Piece of Early Christian Paraenesis (Untersuchungen zum Neuen Testament 14; Leipzig, 1928), 10-11.
Weidinger, The Haustafel, 19.
Weidinger, The Haustafel, 49.
Weidinger, The Haustafel, 50.
Dibelius, Colossians and Ephesians, 451.
Weidinger, The Haustafel, 52.
Weidinger, The Haustafel, 52-53.
Pandangan Dibelius dan Weidinger tampaknya diterima oleh Rudolf Karl Bultmann, Theology of the New Testament (New York: Doubleday, 1951), I.118.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 21.
Untuk kritikan lainnya terhadap pandangan Dibelius dan Weidinger, lih. Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 22-23.
Ernst Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon (Gottingen, 1961), 131-145.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 136.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 138.
Lohmeyer, A Brief Commentary on Colossians and Philemon, 144-145.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 23-24.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 24.
Diulas dalam: Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 25.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26.
Crouch, The Origin and Intention of Colossians Haustafel, 26. Pandangan ini diikuti juga oleh: Stephen Motyer, “Relationship Between Paul’s Gospel of ‘All One in Christ Jesus’ (Gal. 3:28) and the Household Codes,” Vox Evangelica 19 (1989): 33-48.
Yates, “The Christian Way of Life: The Paraenetic Material in Colossians 3:1 – 4:6,” 250.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.